Minggu, 30 Mei 2010

Opini MENGAPA INDONESIA MASIH TERPURUK DALAM KRISIS

Nama : Harih Susanto

Kelas    : 1 ID 05

NPM     : 34409768

 

“MENGAPA INDONESIA MASIH TERPURUK DALAM KRISIS ”

Indonesia merupakan negara yang besar yang di apit oleh dua benua Australia dan Asia serta dua Samudra besar yitu Samudra Hindia dan Samudra Pasifik, tentunya memiliki kekayaan yang berlimpah baik itu hasil alam maupun hasil bumi yang mampu di manfaatkan untuk kesejahteraan masyarakat Indonesia itu sendiri. Namun semua berkata lain, Negara yang dengan segala kekayaan yang melimpah tidak dapat memanfaatkan kekayaan tersebut melainkan tergantung pada orang lain, sehingga kemandirian bangsa akan terbelakang.

Seperti diketahui bahwa Republik ini mengalami krisis yang berkepanjangan, bahkan sampai sekarang negeri yang kita cintai ini masih juga dilanda oleh krisis ekonomi yang membuat rakyatnya semakin susah, apalagi untuk rakyat kecil yang kesehariannya kekurangan dalam pemenuhan kebutuhan, misalkan, Makanan, tempat tinggal, pendidikan, kesehatan dll. Krisis yang dialami bangsa ini harus di tanggung mereka juga yang tidak tau apa-akan kebijakan yang dilakukan pemerintah dalam menanggulanginya. Menurut survey dari beberapa lembaga masyarakat utang Indonesia yang menumpuk sekitar lebih dari Rp1.200 triliun, membuat penduduka di Indonesia harus menanggung utang sebesar Rp 16 Juta Sebagai jaminan hidup warga Negara Indonesia itu sendiri. Ironis!!! Di negri sendiri harus bayar.

Dibawah ini adalah beberapa hal yang menyebabkan Indonesia masih terpuruk dalam krisis ekonomi. Di antaranya adalah sebagai berikut:

 

1.         Kebijakan pemerintah yang inkonsisten untuk menuntaskan krisis ekonomi.

Pemerintah sering dianggap tidak bisa menyelesaikan krisis ekonomi yang berkepanjangan dikarenakan pengambilan kebijakan yang sering kali inkonsisten.

Banyak kebijakan-kebijakan pemerintah untuk mengatasi terjadinya krisis ekonomi namun kebijakan tersebut tidak dilakukan sampai tuntas, sehingga masyarakat tidak memperoleh kepastian yang nyata.

2.         Indonesia sampai saat ini masih memiliki hutang pinjaman luar negeri yang sangat besar.

Hutang-hutang tersebut adalah suatu hutang luar negeri swasta baik jangka pendek, menengah ataupun panjang. Akibat dari penumpukkan hutang-hutang tersebut maka nilai tukar rupiah (Rp) terhadap mata uang luar negeri mendapat tekanan yang cukup berat.

Ada tiga pihak yang harus bertanggung jawab terhadap masalah tersebut yaitu pemerintah, kreditur dan debitur. Namun pihak yang paling bertanggung jawab adalah pemerintah karena dialah yang mengatur segala kebijakan pemanfaatan hutang melalui lembaga Pengelola Hutang Negara.

 

3.         Aset pemerintah yang banyak dikelola pihak swasta

Tugas pemerintah adalah mensejahterakan penduduknya dengan mengelola segala asset Negara baik itu berupa hasil alam, hasil bumi di pergunakan demi keseh\jah teraan rakyat hal ini harus sesuai dengan UUD 45, namun kenyataannya asset Negara yang begitu berlipah banyak yang dikelola pihak asing kita hanya mendapatkan sedikit dari kekayaan alam selebihnya diambil pengelola, seandainya dikelola Negara dengan bijak kesejahteraanyang didmbakan dapat teratasi termasik krisis.

 

4.         Devisa yang dimiliki Negara tidak bisa menutupi semua hutang-hutang luar negeri.

Cadangan devisa republic ini sangat tidak mencukupi untuk menutup semua hutang-hutang luar negeri yang dimiliki, jadi semakin ditunda untuk melunasinya maka semakin besar pula hutangnya karena bunga yang semakin bertambah. Ketergantungan pada IMF sebagai lembaga Bank Dunia membuat Indonesia terjebak akan hutang yang dimiliki.

 

5.         Kesadaran pemimpin

Sebagai pemimpin dengan jabatan tingi dan gaji yang luar biasa ternyata ego akan dirinya terlalu ingi sehingga korupsi merajalela. Sebagai pemimpin yang memegang amanah rakyat tentunya haris mengedepankan kepentingan bersama (umum) bukan kepentingan golongan semata.

KRITERIA PENILAIAN INVESTASI

Nama : Harih Susanto

Kelas    : 1 ID 05

NPM     : 34409768

 

“KRITERIA PENILAIAN INVESTASI”

Setiap penilaian layak yang  diberikan nilai yang standar untuk usaha yang sejenis dengan cara membandingkan dengan rata-rata industri atau target yang telah ditentukan. Dalam prakteknya ada beberapa kriteria  untuk menentukan apakah suatu usaha layak atau tidak untuk dijalankan ditinjau dari aspek keuangan. Kriteria ini sangat tergantung dari kebutuhan masing-masing perusahaan dan metode mana yang akan digunakan. Setiap metode yang digunakan mempunyai kelebihan dan kelemahannya masing-masing. Dalam penilaian suatu usaha hendaknya penilai menggunakan beberapa metode sekaligus. Artinya penilai menggunakan beberapa metode yang digunakan, maka semakin memberikan gambaran yang lengkap  sehingga diharapkan memberikan hasil yang akan diperoleh menjadi lebih sempurna.

Adapun criteria yang biasa digunakan untuk menentukan kelayakan suatu usaha atau investasi adalah :

1.       Payback Peride (PP)

Metode payback penriode merupakan teknik penilaian terhadap jangka waktu pengembalian investasi suatu proyek atau usaha. Perhitungan ini dapat dilihat dari perhitungan kas bersih yang diperoleh setiap tahun. Nilai kas bersih merupakan penjumlahan laba setelah pajak ditambah dengan penyusutan.

Ada 2 macam model perhitungan yang akan digunakan dalam menghitung masa menghitung pengembalian investasi sebagai berikut :

a.       Apabila kas bersih setiap tahun sama

  PP =  x 12 bulan

 

Contohnya :

PP =  x 12 bulan = 24 bulan = 2 tahun

b.       Apabila kas bersih setiap tahun berbeda seperti kasus diatas maka PP dapat dicari sebagai berikut:

Investasi                                               : Rp. 5.000.000.000,-

Kas bersih tahun 1                                 : Rp. 1.750.000.000,-

                                                              Rp. 3.250.000.000,-

Kas bersih tahun 2                                 : Rp. 1.900.000.000,-

Belum cukup                                         : Rp. 1.350.000.000,-

Kas bersih tahun 3                                 : Rp. 2.050.000.000,-

Kelebihan                                              : Rp.    700.000.000,-

PP tahun 3        =  x 12 bulan

                        = 7,9 atau 8 bulan

Maka PP adalah 2 tahun 8 bulan

 

Untuk menilai apakah usaha layak diterima atau tidak dari segi PP, maka hasil perhitungan tersebut harus sebagai berikut:

(1)            PP sekarang lebih kecil dari umur investasi

(2)            Dengan membandingkan rata-rata industry unit usaha sejenis

(3)            Sesuai dengan target perusahaan

Kelemahan metode ini sebagai berikut:

(1)            Mengabaikan time value of money

(2)            tidak mempertimbangkan arus kas yang terjadi setelah masa pengembalian.

 

2.       Average Rate of Return (ARR)

Merupakan cara untuk mengukur rata-rata pengembalian bunga dengan cara membandingkan antara rata-rata laba setelah pajak (EAT)dengan rata-rata investasi.

Rumus  untuk menghitung ARR adalah sebagai berikut:

 


 ARR (%) =   

 

  Rata-rata EAT =

 


  Rata-rata Investasi =

 

3.       Net Present Value (NPV)

NPV atau nilai bersih sekarang merupakan perbandingan antara PV kas bersih (PV of proceed) dengan PV investasi ( capital outlays) selama umur investasi. Selisih antara kedua PV tersebutlah yang kita kenal dengan Net Present Value(NPV)

Rumusan yang biasa digunakan dalam menghitung NPV adalah :

 


  NPV =  +  _ Investasi

 

Setelah memperoleh hasil yang dengan:

NPV positif, maka investasi diterima, dan jika

NPV negative, sebaiknya investasi ditolak

 

4.       Interval Rate of Return (IRR)

Merupakan alat untuk mengukur tingkat pengembalian hasil intern. Ada dua cara yang digunakan untuk mencari IRR.

Cara yang pertama untuk mencari IRR adalah dengan menggunakan rumus sebagai berikut:

(1)     Cari rata-rata kas bersih yaitu sebesar 2.070 yang diperoleh dari : (dalam jutaan)

  = 2070

(2)     Perkirakan besarnya PP yaitu:

PP =  = 4,416

(3)     Dalam tabel A4, tahun ke 5 diketahui yang terdekat dengan angka 2,416 adalah 2,436 adalah 30%.

(4)     Secara subjectif tiap discount kita kurangi 2 % menjadi 28 % sehingga NPVnya dapat dilihat dalam tabel berikut ini:

Perhitungan dengan tabel (dalam ribuan)

Tahun

Kas bersih

D.F (28 %)

PV Kas bersih

1

1.750.000

0,781

1.366.750

2

1.900.000

0,610

1.159.000

3

2.050.000

0,477

977.850

4

2.200.000

0,373

820.000

5

2.450.000

0,291

712.950

Total PV kas bersih

5.037.150

Nilai NPV positif yaitu 5.037.150 – 5.000.000 = 37.150

 

5.       Profitability Index (PI)

Profitability Index (PI) atau benefit and cost ratio (B/C ratio) merupakan rasio aktifitas dari jumlah nilai sekarang penerimaan bersih dengan nilai sekarang pengeluaran investasi selama umur investasi. Rumusan yang digunakan untuk mencari PI adalah sebagai berikut:

 

PI =

 

Dengan kesimpulan:

Apabila PI lebih besar ( > ) dari 1 maka diterima

Apabila Pi kurang dari ( < ) dari 1 maka ditolak

 

6.       Serta berbagai rasio keuangan seperti  rasio likuiditas, solvabilitas, aktifitas dan profibilitas.

Minggu, 21 Maret 2010

PELUANG BISNIS

 

Peluang dalam mendapatkan pekerjaan pada era sekarang tergolong sulit apalagi dengan orang yang hanya mengedepankan atau tergantung dengan pendidikan dalam hal ini ijazah membuat membuat orang tergantung padahal tersebut. Padahal ijazah bukan merupakan faktor utama dalam mendapatkan pekerjaan melainkan skill lah yang berperan aktif dalam pengembangan peribadi seseorang untuk mendapatkan pekerjaan atau menciptakan pekerjaan.

Dalam hal menciptakan pekerjaan dengan maksud usaha sendiri yang mandiri tentunya dibutuhkan tekat yang kuat entah itu dari kalangan beroendidikan, kalangan pengusaha bahkan kalangan menengah (rakyat biasa) pun mampu menciptakan lapangan pekerjaan terutama untuk dirinya sendiri dan berusaha untuk mempekerjakan orang lain.

Bagi orang yang mempunya modal tidak besar banyak alternative dalam menciptakan peluang kerja diantaranya contoh berikut :

1.        Bisnis Laundry

Bisnis loundri memiliki prospek bisnis yang baik dimasa kini dan mendatang apalagi di daerah yang padat penduduk seperti di ibukota. Hal ini cukup beralasan karena di daerah padat penduduk tentunya orang disibukan dengan rutinitas kerja yang padat sehingga kerjaan rumah biasanya terabaikan, tempat yang strategis adala di lingkungan kost mahasiswa. Kesibukan mahasiswa dalam perkuliahan juga menjadikan prospek yang menarik untuk dikembangkan dalam bisnis loundri.

Keuntungan perhari bisa mencapai 200.000-300.000 perhari berikut rincian modal dan keuntungan.

Modal

No

Jenis barang

 Jumlah

 Harga

 Total

1

Mesin cuci

2

2.000.000

4.000.000

2

mesin pengering

1

4.500.000

4.500.000

3

bahan-bahan

 1 pkt

250.000

250.000

4

spanduk

 

200.000

200.000

Jumlah

8.950.000

 

Keuntungan

No

Produk jasa

 satuan (Kg)

 harga

 jumlah

1

Cuci kilat 3 jam

1

12.500

12.500

2

Cuci biasa

1

8.000

8.000

3

cuci sprai

1

20.000

20.000

4

paket cuci 1 minggu

 

 

35.000

Jumlah

75.500

 

Dari data di atas dengan modal <> 5 juta rupiah.

2.        Bisnis fotokopi

Bisnis foto kopi memiliki prospek yang tidak kalah menarik dari yang lain, karena era sekarang merupakan era kertas, dimana setiap orang memerlukan media dalam penggandaan data dalam bentuk hard.

Harga kertas 1 rim (500 lembar) sebesar Rp. 28.000,-  dalam foto kopi 1 lembar foto kopi sebesar Rp 150,- jika dijabarkan secara langsung akan mendapatkan keuntungan Rp 40.000, atau 180% setiap rimnya setelah dikurangi untuk perbaikan biaya.

Wah prospek yang menarik bukan…/

3.        Bisnis pulsa

Bagi mahasiswa dalam menjalankan aktifitasnya pun dapat melakukan bisnis berjalan yaitu dengan menjalankan bisnis pulsa, karena kesibukan mahasiswa yang padat produk bisnis ini dapat di bawa sitiap aktivitas. Baik itu dengan cara elektrik maupun voucher.

BIAYA PRODUKSI

BIAYA PRODUKSI DAN PENERIMAAN

Macam-Macam Biaya Produksi

Biaya produksi adalah semua pengeluaran perusahaan untuk memperoleh factor-faktor produksi yang akan digunakan untuk menghasilkan barang-barang produksi oleh perusahaan tersebut. Untuk analisis biaya produksi perlu diperhatikan dua jangka waktu, yaitu

(1)          jangka panjang, yaitu jangka waktu di mana semua faktor produksi dapat mengalami perubahan dan

(2)          jangka pendek, yaitu jangka waktu dimana sebagian faktor produksi dapat berubah dan sebagian lainnya tidak dapat berubah. Dalam bab ini hanya dibahas biaya produksi jangka pendek

Biaya produksi dapat dibedakan ke dalam dua macam, yaitu

(1)          Biaya tetap (fixed cost)

(2)          Biaya variabel (variable cost).

Dalam analisis biaya produksi perlu memperhatikan

(1)          biaya produksi rata-rata : yang meliputi biaya produksi total rata-rata ,biaya produksi tetap rata-rata, dan biaya variabel rata-rata ; dan

(2)          biaya produksi marjinal, yaitu tambahan biaya produksi yang harus dikeluarkan untuk menambah satu unit produksi.

 

Jadi, dari segi sifat biaya dalam hubungannya dengan tingkat output, biaya produksi dapat dibagi ke dalam:

(1) Biaya Total ( Total Cost = TC) . Biaya total adalah keseluruhan biaya yang dikeluarkan untuk menghasilkan produksi.

TC = TFC + TVC

Dimana TFC = total fixed cost; dan TVC = total variable cost.

(2) Biaya Tetap Total (total fixed cost = TFC). Biaya tetap total adalah keseluruhan biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh faktor produksi yang tidak dapat berubah jumlahnya. Sebagai contoh : biaya pembelian mesin, membangun bangunan pabrik, membangun prasarana jalan menuju pabrik, dan sebagainya.

(1) Biaya Variabel Total (total variable cost = TVC). Biaya variabel total adalah keseluruhan biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh faktor produksi variabel. Contoh biaya variabel : upah tenaga kerja, biaya pembelian bahan baku, pembelian bahan bakar mesin, dan sebagainya.

(2) Biaya Tetap Rata-Rata (Average Fixed Cost = AFC). Biaya tetap rata- rata adalah biaya

tetap total dibagi dengan jumlah produksi.TFC

AFC = ------- ( di mana Q = tingkat output)Q

(3) Biaya Variabel Rata-Rata ( Average Variable Cost = AVC). Biaya variabel rata-rata  dalah biaya variabel total dibagi dengan jumlah produksi.TVC

AVC = --------Q

(4) Biaya Total Rata-Rata ( Average Total Cost = AC). Biaya total rata-rata adalah biaya total dibagi dengan jumlah produksi.T C

AC = --------- atau AC = AFC + AVC.

 (5) Biaya Marginal ( Marginal Cost =MC). Biaya marginal adalah tambahan biayaproduksi yang digunakan untuk menambah produksi satu unit.

DTC

MC = ---------DQ

 

6.2. Kurve Biaya Produksi

Kurve biaya produksi adalah kurve yang menunjukkan hubungan antara jumlah biaya

produksi yang dipergunakan dan jumlah produk yang dihasilkan. Pada umumnya biaya

produksi ditunjukkan oleh sumbu vertikal dan jumlah produk oleh sumbu horizontal. Kurve

ini bisa diperoleh dengan diketahuinya : (1) kurve produk totap (KPT), dan (2) harga-harga

per unit input yang digunakan.

Kurve Total Variabel Cost (TVC) dan Kurve Total Cost (TC)

Kurve Biaya Tetap Rata-Rata ( Average Fixed Cost= AFC )

Kurve Biaya Variabel Rata-Rata (Average Variable Cost= AVC)

Kurve Biaya Total Rata-Rata (Average Total Cost = ATC) dan Kurve Biaya Marginal (

Marginal Cost)

Biaya Total Variabel (Rp.) Biaya Total (TC)

TVC TFC + TVC = TC

6.3. Penerimaan (Revenue)

Penerimaan adalah penerimaan produsen dari hasil penjualan outputnya. Terdapat tiga konsep penting tentang revenue yang perlu diperhatikan untuk analisis perilaku produsen. (1) Total Revenue (TR), yaitu total penerimaan produsen dari hasil penjualan outputnya. Jadi, TR = Pq Q, dimana Pq = harga output per unit; Q = jumlah output. (2) Average Revenue (AR), yaitu penerimaan produsen per unit output yang dijual.

(3)   Marginal Revenue (MR), kenaikan TR yang disebabkan oleh tambahan penjualan satu unit output.

 

KONSEP-KONSEP PENTING DALAM BAB INI

· Konsep Biaya ( TFC, TVC, TC, AFC, AVC (MC) , ATC (AC)

· Hubungan antara TC dan Produk Total (PT)

· Hubungan antara MC, MR, dan AC

· Konsep revenue ( TR, AR, MR)

· Hubungan antara TR, MR, AR, dan Elastisitas harga

· Dalil Keuntungan Maksimum